Kabupaten Kaimana menuju Wajar Tanpa Pengecualian, merupakan Percepatan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Menuju Kaimana sebagai Kabupaten Termaju di Selatan Papua pada Tahun 2010...

Nasional Wisata Bisnis Romantisme Senja di Kaimana

Romantisme Senja di Kaimana

image

KAIMANA – Bagi pencinta tembang lawas era 1970-an, tentunya lagu “Senja di Kaimana” yang dibawakan penyanyi Alfian sudah tak asing lagi di telinga.

Lagu yang menceritakan tentang keindahan senja di Kaimana, Papua Barat itu membuat rasa penasaran siapa saja untuk menyaksikan langsung senja saat berada di Kaimana.

Dari cerita para orang tua dulu, terciptanya lagu ini berawal ketika pasukan tentara Tri Komando Rakyat (Trikora) mendarat di Kaimana (waktu itu masih menjadi satu dengan Kabupaten Fakfak-red). Kedatangan Pasukan Trikora itu untuk membebaskan Irian Barat di tahun 1960-an dari penjajahan asing, tepatnya di Tanjung Fataga menggunakan KRI Macan Tutul.

Pasukan ini mendarat di saat hari menjelang sore dan disambut dengan keindahan nuansa senja di Kaimana. Mereka begitu terpesona menyaksikan pemandangan alam senja itu dan lupa kalau saat itu mereka hendak bertempur melawan pasukan Belanda untuk merebut kembali Irian Barat ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Salah seorang di antara tentara itu kemudian membuat puisi tentang keindahan senja di Kaimana. Dan saat kembali ke Pulau Jawa inilah puisi tersebut dibuat dan kemudian dijadikan lagu dengan judul “Senja di Kaimana”.

Biasanya senja akan terlihat indah sehabis turun hujan dari pukul 12.00 sampai 15.00. Ketika langit bersih dan matahari akan terbenam itulah muncul panorama yang sangat indah, karena di balik panorama langit yang berwarna dominan ungu, merah, serta oranye ini muncul pula pelangi dari arah timur.

Tetapi bila tidak sedang turun hujan, suasana senja di Kaimana terasa biasa-biasa. Saya termasuk orang yang beruntung, karena ketika baru pertama kali mengunjungi Kaimana ternyata langsung mendapat suguhan keindahan alam ciptaan Tuhan yang tiada tara ini. Begitu indah dan unik sehingga mata tak mau terpejam, ingin menyaksikan detik demi detik perubahan bentuk langit.

Bila Anda belum pernah ke Kaimana dan ingin menyaksikan senja di sana, pemandangan sebelum matahari terbenam itu dapat Anda saksikan di daerah Coa pada bulan Agustus. Menurut warga Kaimana, pada bulan Agustus keindahan senjanya biasanya sangat fantastis, langit Kaimana akan berwarna merah. Uniknya, bentuk langitnya akan selalu berubah–ubah dan tidak terpaku pada satu bentuk dan warna saja.

Mau percaya atau tidak, masyarakat Kaimana juga mempercayai sejumlah cerita, seperti cerita dari Pulau Aiduma, di mana setiap hari Jumat tepat pukul 11.00 selalu muncul serombongan ikan yang dipimpin ikan paus, kemudian diikuti lumba-lumba dan serombongan ikan lainnya. Mereka akan menuju Pulau Namatota. Dahulu ada Kerajaan Namatota yang penduduknya beragama Islam. Rombongan ikan itu menuju Pulau Namatota untuk mengambil air wudu.

Kompleks Pecinan

Kota Kaimana ternyata menyimpan banyak objek wisata selain kekayaan wisata bahari. Ada yang seolah-olah terlupakan, yakni kompleks daerah pecinan. Letaknya di jantung Kota Kaimana. Warga China di Kaimana sudah lama beranak pinak bahkan sejak zaman Hindia Belanda sehingga biasanya ada istilah orang China Medan, China Makassar, atau China Surabaya. Maka, di Papua selain ada peranakan China Serui, ada juga peranakan China Kaimana.

Seperti orang China lainnya, kebanyakan mata pencarian mereka berdagang. Dahulu sebelum banyak kaum pendatang dari Makassar ke daerah ini, warga China biasanya melakukan jual-beli dengan nelayan tradisional asli Kaimana, seperti menjual teripang, sirip ikan hiu, dan hati ikan hiu.

Sisi unik dari Kota Kaimana lainnya adalah ada semacam peraturan tak tertulis di antara para pemilik toko, yaitu pada pukul 14.00 WIT seluruh toko tutup. Menurut mereka, jam itu merupakan jam tidur siang sehingga suasana kota betul-betul sepi. Toko baru akan buka lagi pada pukul 16.00.

Apabila Anda ingin rehat dan melepaskan diri dari kebisingan kota besar, kota tua ini memang layak dijadikan sebagai objek wisata alternatif.

Sekilas Info

Papua adalah sebuah propinsi di Indonesia yang terletak di belahan barat pulau Irian dan pulau-pulau di  sekitarnya. Papua juga kadang dipanggil sebagai Papua Barat karena Papua  bisa merujuk kepada seluruh  pulau Irian atau belahan selatan negara tetangga, Papua New  Guinea. Papua Barat adalah sebutan yang lebih disukai para nasionalis yang ingin  memisahkan diri daripada Indonesia dan  membentuk negara sendiri. Propinsi ini dulu   dikenal dengan panggilan Irian Barat sejak tahun 1969 hingga 1973, namanya kemudian  diganti menjadi Irian Jaya oleh Suharto, nama yang tetap digunakan secara resmi hingga  tahun 2002. Nama propinsi ini diganti menjadi 'Papua' sesuai UU No 21/2001 Otonomi  Khusus Papua. Pada masa era kolonial, daerah ini disebut Nugini Belanda (Dutch New Guinea).

Papua merupakan Propinsi yang terletak di wilayah paling timur negara Republik Indonesia dan merupakan daerah yang penuh harapan. Daerahnya belum banyak dirambah aktivitas manusia dan kaya akan sumber daya alam yang menyajikan peluang untuk berbisnis dan berkembang. Tanahnya yang luas dipenuhi oleh hutan, laut dan beragam biotanya dan berjuta-juta tanahnya yang cocok untuk tanah pertanian. Didalam buminya, Papua juga menyimpan gas alam, minyak dan aneka bahan tambang lainnya yang siap menunggu untuk diolah.

Pemerintahan
Propinsi Papua Beribu kota di Jayapura dan secara administrasi terdiri dari : 9 Pemerintahan Kabupaten iaitu Kabupaten Jayapura, Jayawijaya, Merauke, Fak-Fak, Sorong, Manokwari, Biak Numfor, Yapen Waropen dan Nabire. Dua Pemerintahan Kota iaitu Kota Jayapura dan Kota Sorong, tiga Pemerintahan Kabupaten Administratif yaitu Puncak Jaya, Paniai dan Mimika. Jumlah Kecamatan di Papua adalah 173 kecamatan yang mencakup 2.712 desa dan 91 kelurahan.

Geografi
Papua terletak pada posisi 0° 19' - 10° 45' LS dan 130° 45' - 141° 48' BT, menempati setengah bagian barat dari Papua New Guinea yang merupakan pulau terbesar kedua daripada Greenland. Secara fisik, Papua merupakan Propinsi terluas di Indonesia, dengan luas daratan 21,9% dari total tanah seluruh Indonesia iaitu 421.981 km2, membujur dari barat ke timur (Sorong - Jayapura) sepanjang 1,200 km (744 mile) dan dari utara ke selatan (Jayapura- Merauke) sepanjang 736 km (456 mile). Selain tanah yang luas, Papua juga memiliki banyak pulau yang menempati sepanjang pesisirnya. Dipesisir utara terdapat pulau Biak, Numfor, Yapen dan Mapia. Disebelah barat pulau Salawati, Batanta, Gag, Waigeo dan Yefman. Dipesisir Selatan terdapat pulau Kalepon, Komoran, Adi, Dolak dan Panjang, sedangkan di bagian timur berbatasan dengan Papua New Guinea.

Iklim
Papua terletak tepat di sebelah selatan garis khatulistiwa, namun karena daerahnya yang bergunung-gunung maka iklim di Papua sangat bervariasi melebihi daerah Indonesia lainnya. Di daerah pesisir barat dan utara beriklim tropis basah dengan curah hujan rata-rata berkisar antara 1.500 - 7.500 mm pertahun. Curah hujan tertinggi terjadi dipesisir pantai utara dan di pegunungan tengah, sedangkan curah hujan terendah terjadi di pesisir pantai selatan. Suhu udara bervariasi sejalan dengan bertambahnya ketinggian. Untuk setiap kenaikan ketinggian 100 m ( 900 feet ), secara rata-rata suhu akan menurun 0,6°C.

Topografi
Keadaan topografi Papua bervariasi mulai dari dataran rendah berawa sampai dataran tinggi yang dipadati dengan hutan hujan tropis, padang rumput dan lembah dengan alang- alangnya. Dibagian tengah berjejer rangkaian pegunungan tinggi sepanjang 650 km. Salah satu bagian dari pegunungan tersebut adalah pegunungan Jayawijaya yang terkenal karena disana terdapat tiga puncak tertinggi yang walaupun terletak didekat khatulistiwa namun selalu diselimuti oleh salju abadi iaitu puncak Jayawijaya dengan ketinggian 5,030m (15.090 ft), puncak Trikora 5.160 m (15.480 ft) dan puncak Yamin 5.100 m (15.300 ft). Sungai-sungai besar beserta anak sungainya mengalir ke arah selatan dan utara. Sungai Digul yang bermula dari pedalaman kabupaten Merauke mengalir ke Laut Arafura. Sungai Warenai, Wagona dan Mamberamo yang melewati Kabupaten Jayawijaya, Paniai dan Jayapura bermuara di Samudera Pasifik. Sungai-sungai tersebut mempunyai peranan penting bagi masyarakat sepanjang alirannya baik sebagai sumber air bagi kehidupan sehari-hari, sebagai penyedia ikan mahupun sebagai sarana penghubung ke daerah luar. Selain itu terdapat pula beberapa danau, diantaranya yang terkenal adalah Danau Sentani di Jayapura, Danau Yamur, Danau Tigi dan Danau Paniai di Kabupaten Nabire dan Paniai.

Sosial Budaya
Pada daerah-daerah Papua yang bervariasi topografinya terdapat ratusan kelompok etnik dengan budaya dan adat istiadat yang saling berbeda. Dengan mengacu pada perbedaan topografi dan adat istiadat nya maka sacara garis besar penduduk Papua dapat di bedakan menjadi 3 kelompok besar yaitu: penduduk daerah pantai dan kepulauan dengan ciri-ciri umum, rumah diatas tiang (rumah panggung), mata pencaharian menokok sagu dan menangkap ikan. Penduduk daerah pedalaman yang hidup pada daerah sungai, rawa, danau dan lembah serta kaki gunung. Pada umumnya bermata pencaharian menangkap ikan, berburu dan mengumpulkan hasil hutan. Penduduk daerah dataran tinggi dengan mata pencaharian berkebun beternak secara sederhana. Pada umumnya masyarakat Papua hidup dalam sistem kekerabatan yang menganut garis ayah atau patrilinea.

Bahasa
Di Papua terdapat ratusan bahasa daerah yang berkembang pada kelompok etnik yang ada. Keaneka ragaman bahasa ini telah menyebabkan kesulitan dalam berkomunikasi antara satu kelompok etnik dengan kelompok etnik lainnya. Oleh karena itu Bahasa Indonesia lah yang digunakan secara rasmi oleh masyarakat-masyarakat di Papua bahkan hingga ke pedalaman.

Agama
Keagamaan merupakan salah satu aspek yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat di Papua dan dalam hal kerukunan antar umat beragama, Papua dapat dijadikan contoh bagi daerah lain. Mayoriti penduduk Papua beragama Kristian, namun demikian, sejalan dengan semakin lancarnya transportasi dari dan ke Papua maka jumlah orang yang beragama lain termasuk Islam juga semakin berkembang. Banyak misionaris baik asing mahupun Indonesia yang melakukan misi keagamaannya di pedalaman-pedalaman Papua. Mereka berperan penting dalam membantu masyarakat baik melalui sekolah-sekolah misionaris, pengobatan-pengobatan mahupun secara langsung mendidik masyarakat pedalamandalam bidang pertanian, mengajar Bahasa Indonesia mahupun pengetahuan-pengetahuan praktis lainnya. Misionaris juga merupakan pelopor dalam membuka jalur penerbangan ke daerah-daerah pedalaman yang belum terjangkau oleh penerbangan reguler.

Menginang, Membangun Persaudaraan di Papua
Jangan heran ketika orang Papua tertawa lebar, giginya tampak berwarna hitam kemerahan. Hal itu bukan pertanda mereka kurang merawat gigi, tetapi karena kebiasaan menginang (makan pinang) sejak remaja. Orang Papua memiliki tradisi menginang. Tradisi yang tak mengenal kelas ini ternyata memiliki nilai kekeluargaan dan kebebasan berekspresi.
Tradisi menginang memiliki satu nilai persaudaraan sangat kuat, dengan rasa sosialitas yang tinggi, dan tidak dapat digantikan dengan benda jenis apa pun. Sebab, menginang tidak hanya dilakukan kaum pria, tetapi juga wanita, termasuk anak-anak remaja. Di Papua tidak ada tradisi mengisap rokok dengan bahan baku tradisional, seperti di daerah lain, kecuali menginang.

Di setiap pertemuan formal atau nonformal menginang wajib dilakukan oleh peserta pertemuan, terutama para tetua adat. Tidak menginang berarti bukan "anak adat". Karena itulah, para tetua adat yang datang ke suatu acara selalu membawa sirih, pinang, dan kapur. Sebab, dalam kesempatan seperti itu bakal ada acara saling menawarkan sirih pinang dan abu kapur, meski penyelenggara acara menyediakan sirih dan pinang.

Pada tahun 1930-an seorang pendatang dinilai memiliki moral dan etika jika dia mampu mengunyah pinang, sirih, dan abu kapur yang ditawarkan kepala suku. Menolak tawaran memakan pinang berarti menolak adat, sekaligus menolak keberadaan masyarakat asli tersebut. Namun, tradisi itu mulai hilang setelah semakin banyak warga pendatang yang masuk ke Papua.
Menginang merupakan alat membangun persaudaraan, sarana komunikasi, bahan dialog dan diskusi, menjamu tamu, serta mengambil keputusan dalam adat. Ketika salah satu peserta dialog bicara dengan nada tinggi dan emosional, orang di sekitarnya langsung menyuguhkan sirih pinang dan abu kapur di hadapannya untuk mengunyah dengan maksud meredam emosi orang itu.

Orang dinilai beretika atau orang Papua sering menyebut sebagai "anak adat" kalau dia sering menawarkan sirih dan pinang kepada orang lain. Mereka menjadikan sirih dan pinang sebagai sarana komunikasi dalam pergaulan dan bersosialisasi dengan lingkungan di mana ia berada.
Menginang memiliki nilai kesamaan budaya, serta rasa senasib dan sependeritaan. Dalam melakukan musyawarah adat, tradisi menginang lazim mengawali pertemuan. Orang tidak akan berbicara jika semua peserta belum menginang atau belum ada bahan untuk menginang di tempat pertemuan.

Karena itu, tak perlu heran jika setiap ada pertemuan 2-3 orang Papua, di situ ada acara menginang. Sambil menginang orang-orang itu akan bercerita dengan santai, berdiskusi, bahkan berceramah, atau mengajar di depan kelas. Para pegawai negeri sipil atau pejabat daerah tak jarang terlihat menyimpan buah pinang, sirih, dan kapur di dalam saku celana atau tasnya.

Saat menginang, warna merah dari sirih pinang juga sering mengalir sampai ke dagu dan meleleh di bagian bibir bawah penginang, bahkan meleleh sampai ke bagian baju mereka. Satu hal yang agak memprihatinkan, tidak semua penginang menjaga kebersihan lingkungan. Di mana ada kerumunan masyarakat atau konsentrasi warga, bisa dipastikan di sana ada lantai, bangunan, dan benda-benda yang bernoda kemerah-merahan akibat ludah para penginang.
Karena itu, di beberapa kantor pemerintah daerah sering disimpan sebuah palungan, pot, ember, dan bejana lain yang di dalamnya berisi tanah, sebagai tempat untuk membuang kunyahan sirih dan pinang. Di ruang tunggu Bandar Udara Sentani, Jayapura, dibuat tulisan besar yang menyebutkan di ruangan itu dilarang menginang.

 

Login Form